Categories
CORETAN CENDEKIA Uncategorized

DEPRESI “Know It and Solve It”

253696

 

[PRESS RILIS Sarasehan Peneliti Kluster Medika]

Acara ini diselenggarakan pada Hari Sabtu, 16 September 2017, di ruang I, Gedung Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pembicara pada acara ini adalah Ibu Nurul K. Hidayati M.Psi, selaku manajer dari CPMH (Central for Public Mental Health) dan psikolog di Gadjah Mada Medical Centre. Acara ini diorganisir dan disponsori oleh UKM Gama Cendekia selaku UKM berbasis keilmuan di Universitas Gadjah Mada.

Acara diskusi ini berjudul Depression – Let’s Talk, yang merupakan judul dari salah satu judul poster publikasi organisasi internasional WHO pada 7 April 2017, dalam rangka merayakan hari kesehatan dunia di saat itu. Acara ini membahas tentang depresi dan gangguan kejiwaan lain yang berhubungan dengan depresi.

Di awal pembicaraan Ibu Nurul mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak mengetahui antara perbedaan “saya merasa depresi” dan “saya depresi”. Depresi sendiri merupakan sejenis gangguan jiwa (Mental Disorder) yang terkadang menunjukkan gejala dan tanda tertentu, tergantung pada tingkat keparahannya, seperti merasa putus asa, sedih, ingin menyendiri, yang bisa terjadi karena suatu pemicu atau penyebab , atau pun terjadi secara tiba-tiba.

Risiko terkena depresi disebabkan oleh tiga faktor, yaitu psikologis, pengaruh lingkungan, dan faktor genetik. Anak yang terlahir dari orang tua yang memiliki riwayat depresi, memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami depresi. Semua orang bisa mengalami depresi, baik anak – anak, remaja, maupun dewasa. Sebuah penelitian menunjukan bahwa wanita lebih banyak menderita depresi dibandingkan pria, disebabkan karena penyesuaian citra diri wanita yang lebih kompleks dari pada pria (Humas UKP, 2011).

Kebanyakan orang tidak bisa membedakan antara depresi dengan stress. Depresi merupakan penyakit mental. Ia ditandai dengan rasa putus asa, sedih , kekecewaan yang datang secara tiba – tiba, baik karena respons terhadap suatu masalah, atau muncul tiba – tiba tanpa ada pemicunya, sedangkan stres merupakan respon terhadap berbagai kejadian atau hal yang buruk yang dapat menyebabkan perubahan atau mengancam kehidupan anda (Komaladi, 2016). Namun , stres yang berkepanjangan bisa menjadikan seseorang mengalami depresi (Humas UKP, 2011).

Stress berbeda dengan depresi, pemulihan dari stress biasanya cepat, sedangkan depresi memerlukan recovery time yang sangat lama, hingga bertahun – tahun lamanya. Masa pemulihan pun tergantung pada tingkat depresinya. Depresi terbagi atas tiga tingkat, yaitu tingkat awal (mild), tingkat sedang (middle), dan tingkat berat (severe). Ada beberapa tanda – tanda awal bahwa seseorang menderita depresi. Meskipun, bukan berarti orang yang memiliki ciri – ciri ini adalah penderita depresi, hal ini juga bisa menjadi titik acuan untuk mengetahui apakah orang tersebut mungkin menderita depresi.

Berikut ini adalah beberapa tanda – tanda awal, seseorang menderita depresi :

  1. Merasa letih berkepanjangan , padahal ia sedikit atau bahkan tidak melakukan aktivitas apapun
  2. Merasa segala hal yang biasanya menyenangkan tiba – tiba menjadi membosankan
  3. Merasa sedih dan tidak berguna ( putus asa )
  4. Penurunan nafsu makan atau makan yang berlebihan
  5. Mengalami gangguan tidur
  6. Sulit fokus dalam melakukan suatu hal
  7. Merasa ingin menjauh dan menyendiri dari orang lain
  8. Kecenderungan pikiran untuk melakukan tindakan aneh hingga bunuh diri

Jika seseorang mengalami hal –hal diatas dalam jangka waktu 2 minggu atau bahkan lebih, ada kemungkinan besar bahwa dia terkena depresi. Depresi bukanlah gangguan jiwa yang bisa dianggap remeh. Menurut catatan WHO, setidaknya 322 juta orang di seluruh dunia mengalami depresi, dan lebih dari 800 ribu orang meninggal bunuh diri akibat depresi (WHO, 2017). Di Indonesia sendiri, penyebab kematian akibat depresi menduduki peringkat kedelapan dengan menyumbang tiga persen dari total angka kematian.

Depresi bukanlah suatu penyakit yang dapat diatasi sendiri dan bisa diubah hanya dengan sekadar sebuah sugesti dari dalam diri. Orang yang menderita depresi membutuhkan orang disekitarnya untuk membantunya sembuh. Dia selalu membutuhkan orang lain yang bisa meng – support dirinya, membantunya melewati setiap masa sulitnya agar dia dapat lebih cepat pulih dari penyakit tersebut. Namun , kita harus mengetahui dulu jenis – jenis depresi, agar kita bisa mengambil langkah yang tepat untuk mengatasinya.

Depresi terbagi atas dua sub kategori, yaitu depresi berkelanjutan dan distemia. Depresi berkelanjutan dapat sering terjadi, ia dapat dibagi menjadi tipe ringan, sedang, dan berat, tergantung intensitasnya dan jenis gejalanya. Distemia memiliki gejala yang mirip dengan depresi berkelanjutan dan lebih jarang terjadi, tetapi masa penyembuhannya lebih lama (WHO, 2017).

Salah satu solusi terbaik untuk depresi menurut Ibu Nurul (2017) adalah talk therapy. Penderita depresi tidak boleh dibiarkan sendiri dan berdiam diri, ia harus dibimbing dan didukung di masa – masa tersebut. Meskipun, obat – obatan juga bisa membantu meredakan depresi dengan melepaskan zat doparmin yang memberikan efek relaksasi, dukungan orang – orang, teman, dan sanak keluarga yang akan sangat membantu penderita depresi pulih.

Selain membahas depresi, di diskusi ini juga dibahas mengenai gangguan kecemasan dan gangguan lain yang berhubungan dengan depresi. Gangguan kecemasan atau keraguan memiliki kesamaan dengan depresi , yaitu penyembuhan yang lama, bisa terjadi tiba – tiba, dan dapat berujung bunuh diri (WHO, 2017). Ada juga gangguan yang namanya gangguan bipolar.

Penjelasan perbedaan antara bipolar dan depresi bisa dilihat di grafik ini :

Screen Shot 2017-09-19 at 10.20.22 PM

Berdasarkan yang saya dengar dari ibu Nurul (2017), penderita bipolar akan memiliki mood yang sangat baik pada satu saat dan di saat yang lain ia akan mengalami depresi, sedangkan depresi tidak mengalami kenaikan mood menuju mood yang baik. Bipolar bukan merupakan jenis depresi, namun ada fase kondisi dalam bipolar yang dinamakan fase depresi. Lalu , ada juga yang namanya winter syndrom, yang membuat mood penderitanya dipengaruhi oleh kondisi cuaca, dan suasana sekitar.

Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah, ketika kamu menyadari bahwa kamu atau teman kamu mengalami depresi, jangan menggangap itu adalah sesuatu yang memalukan dan memendamnya. Sugesti dari dalam diri tidaklah cukup, karena butuh kekuatan yang sangat besar, untuk menghadapinya sendiri. Jika anda memiliki teman yang mengalami ini, temani dan dukung mereka.

Penderita depresi tidak terlalu membutuhkan obat-obatan penenang, obat atau zat – zat doparmin , apalagi zat – zat yang bersifat adiktif. Mereka juga tidak selalu akan membutuhkan seorang psikolog untuk berkonsultasi di setiap saatnya. Mereka juga tidak perlu pergi berobat dan mengeluarkan biaya mahal untuk itu.

311255

Yang mereka benar – benar butuhkan adalah dukungan dari keluarganya, temannya, orang –orang terdekatnya, atau siapa pun yang peduli pada mereka. Karena orang – orang itulah yang akan selalu memastikan dia tidak akan kesepian dan berdiam diri, memastikan dirinya bisa berbagi semua hal yang ingin dia bagikan, membantunya di masa sulit, dan membantu dia agar dapat kembali menjadi orang, orang yang bebas dari depresi, sekali untuk selamanya.

 

 

 

Press Release – Senin, 18 September 2017

Sarasehan Riset – Mahasiswa Kluster Medika

Tomy Chandra

Fakultas Pertanian

Jurusan Budidaya Pertanian 2017

Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hidayati, N.K. (2017) Acara Diskusi Sarasehan Riset Mahasiswa Kluster Medika. Cited from Public Discussion on 16 September 2017. Yogyakarta

Humas UKP (2011) Mengenal Depresi. [Online] Available from: http://ukp.psikologi.ugm.ac.id/id/mengenal-depresi/ [Accessed: 18/09/2017]

Komaladi, L. (2016) Apa Beda Stres dan Depresi. [Online] Available from: https://www.dokter.id/berita/apa-beda-stress-dan-depresi                            [Accessed: 18/09/2017]

WHO (2017) Depression and Other Common Mental Disorders. [Online] September 2017. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/254610/1/WHO-MSD-MER-2017.2-eng.pdf?ua=1 [Accessed: 18/09/2017]

WHO (2017) Who Releases Guidance on Responsible Reporting on Suicide. [Online] Available from: http://who.int/mental_health/suicide-prevention/en/    [Accessed: 19/09/2017]

Leave a Reply

Your email address will not be published.