Emisi CO2 yang meningkat selama beberapa decade telah menyebabkan berbagai macam perubahan yang terjadi di bumi seperti meningkatnya suhu bumi, perubahan iklim dunia, dan ocean acidification. Ocean acidification merupakan pengasaman air laut. Ocean acidification bisa terjadi karena sebagian besar CO2 terserap di laut. Di dalam laut, CO2 kemudian akan bereaksi dengan air laut (H2O) membentuk asam karbonat sambil melepaskan proton yang lebih lanjut akan bereaksi dengan ion karbonat membentuk lebih banyak asam karbonat. Ion karbonat merupakan bahan baku untuk pembentukan karang. Jika ion karbonat yang ada di laut kemudian berikatan dengan proton, hal itu akan mengakibatkan menipisnya jumlah ion karbonat yang ada di laut. Sehingga, hanya tersisa sangat sedikit ion karbonat yang dapat digunakan untuk pembentukan karang.
carbon
Beberapa waktu lalu, dunia pertelevisian serta dunia maya dihiasi oleh berita – berita mengegerkan mengenai beberapa fenomena aneh yang terjadi dibeberapa belahan di muka bumi. Dimulai dengan berita munculnya suara terompet di langit Amerika, Eropa dan Australia kemudian diikuti dengan peristiwa meningkatnya suhu secara ekstrim di India hingga menewaskan lebih dari 1.400 orang dan dikabarkan karena begitu panasnya sampai aspal jalanan meleleh dengan suhu lebih dari 45 oC. Hal tersebut tentunya menggemparkan seluruh kalangan penduduk dunia.
Carbon Positive merupakan segala sesuatu yang mengakibatkan peningkatan pelepasan atau emisi karbon ke atmosfer dan lingkungan sekitar. Emisi carbon yang berlebihan sangat mempengaruhi perubahan iklim secara global yang akan berdampak pada pemanasan global.Hal ini ditandai dengan bertambahnya suhu rata-rata diseluruh permukaan bumi.
Para ilmuan mengajukan teori efek rumah kaca sebagi pemicu pemanasan global.Seperti namanya, efek rumah kaca merupakan fenomena yang terkait dengan cara kerja rumah kaca yang kerap digunakan dalam bidang pertanian maupun perkebunan. Rumah kaca merupakan sebuah bangunan dimana tananaman dipelihara dan tumbuh dibawah lingkungan yang terkendali. Struktur ini memiliki atap dan penutup yang biasanya terbuat dari bahan-bahan transparan seperti plastik dan kaca. Rumah kaca ini memungkinkan radiasi matahari diserap sekaligus membuat panas terperangkap di dalamnya.
Salah satu permasalahan global yang sedang dihadapi oleh masyarakat di dunia ialah perubahan iklim. Emisi karbon berlebih yang terakumulasi di atmosfer kita makin hari makin mengkhawatirkan. Peningkatan emisi karbon terjadi pasca revolusi industri (30.org, 2014). Hal ini berdampak pada peningkatan suhu rata-rata global yang meningkat sebesar 2°C (Mc Glashan et al., 2012). Konsentrasi atmosfer dari efek rumah kaca tidak bisa menampung 450 bagian permiliyar. Ini akan memerlukan pemotongan emisi setidaknya sebesar 30 juta ton pada tahun 2030. Konsesus ilmiah menyatakan bahwa emisi karbon ini harus dikurangi sebanyak 80% hingga tahun 2050 untuk menghindari peningkatan rata-rata suhu global lebih dari 2°C. Oleh karena itu perlu adanya upaya manajemen penanganan emisi karbon yang diproduksi oleh sektor industri maupun non-industri.
Berbicara mengenai isu carbon negative memang sangat menarik. Akumulasi bahan – bahan atau zat yang mengandung karbon dan mempunyai dampak merugikan atau membahayakan bagi manusia maupun lingkungan semakin menumpuk di atmosfer. Karena dianggap merugikan dan membahayakan, maka sekarang ini sedang marak dilakukan upaya penanggulangannya. Salah satunya adalah dengan pemanfaatkan karbon itu sendiri.
Sumber karbon jangan dipandang sebatas karbondioksida (CO2), gas metan (CH4), ataupun gula (C6H12O6) saja. Masih banyak sumber karbon lainnya. Salah satunya adalah limbah pertanian. Limbah pertanian banyak mengandung sumber karbon. Limbah pertanian yang tidak diolah dengan baik, pada titik tertentu dapat mengalami fermentasi dan dapat menghasilkan gas metan CH4 yang berkontribusi sebagai karbon negatif. Namun, sekarang ini banyak dimanfaatkan limbah pertanian menjadi produk yang berdaya guna lebih tinggi, salah satunya adalah produk nata de coco yang memanfaatkan sumber karbon dari air kelapa.
Peternakan ayam ada banyak di berbagai wilayah Indonesia. Kebutuhan gizi daging ayam terus meningkat dari tahun ke tahun. Permasalahan dari limbah peternakan ayam adalah limbah kotorannya. Polusi bau, air, udara dapat timbul akibat kotoran ayam ini. Pengelolaan limbah yang belum maksimal menimbulkan berbagai permasalahan pada lingkungan sekitar. Pencemaran bau, air, maupun udara terjadi.
Emisi methana (CH4) dan amonia (NH3) yang dihasilkan oleh kotoran ayam tersebut menimbulkan bau, sehingga mengganggu lingkungan sekitar. Pencemaran tersebut dapat menambah jumlah karbon yang ada di atmosfer. Hal ini dikategorikan sebagai carbon positive. Karbon positif merupakan segala macam aktivitas yang dapat menambah akumulasi karbon di atmosfer. Jumlah karbon yang terus bertambah akan meningkatkan resiko efek rumah kaca. Bumi akan semakin panas yang akan mengancam keberlangsungan kehidupan di dunia.


