Categories
CORETAN CENDEKIA KREASI CENDEKIA

The Second Brain: Get to Know More about Yourself

 

By: Adinda Fitri Salsabila (FPN, 2018)

WhatsApp Image 2020-08-03 at 17.56.01

sumber: www.jocelynlive.com

Pernahkah kamu mendengar bahwa manusia memiliki otak kedua? Jika iya, apakah kamu mempercayainya? Kalau pun kamu mempercayainya, apakah yang dimaksud sebagai otak kedua? Lalu, mengapa disebut demikian? Adakah hubungan antara otak kedua dengan kesehatan dan suasana hati manusia? Untuk kamu yang baru mengetahui dan ingin memahami tentang “otak” kedua manusia, kali ini akan dibahas mengenai otak kedua dan hubungannya dengan kesehatan dan suasana hati manusia.

Apa itu otak kedua?

Menurut penelitian, setiap manusia sejatinya memiliki “otak” kedua. Namun, otak kedua ini tidak sama seperti halnya otak yang biasanya kita ketahui berada di dalam tulang tengkorak kita. Lalu, di manakah letak otak kedua manusia? Untuk menjawab hal ini, sebelumnya kita akan cari tahu terlebih dahulu mengenai sejarah adanya “otak” kedua manusia. Pastinya penasaran kan?

Dilansir dari scientificamerican.com, dahulu saat peserta olimpiade mendapatkan emas di Vancouver, orang yang paling tegar sekali pun mungkin mengalami perasaan seakan-akan ada “ribuan bahkan jutaan kupu-kupu” berterbangan di dalam perut mereka. Tahukah kamu hal apa yang mendasari timbulnya sensasi ini? Hal yang mendasari adanya sensasi ini adalah jaringan neuron yang melapisi usus kita, sehingga beberapa ilmuwan menyebutnya sebagai “otak kedua” manusia.

Secara ilmiah, dikutip dari sciencedaily.com, sistem saraf enterik (ENS) dikenal sebagai “otak kedua” atau otak dalam usus karena dapat beroperasi secara independen dari otak dan sumsum tulang belakang yang merupakan sistem saraf pusat (CNS) yang disebut sebagai “otak pertama”. Berdasarkan bukti yang telah ditemukan, menunjukkan bahwa ENS berkembang sebelum CNS. Meskipun ENS diketahui berperan dalam menghasilkan aktivitas motorik di usus besar, mengamati neuron ENS merupakan suatu tantangan.

Jaringan saraf ini ternyata berisikan neurotransmiter penting yang mana dapat melakukan lebih dari sekadar menangani pencernaan atau menimbulkan gangguan saraf sesekali. Hal ini kemudian sebagian dapat menentukan kondisi mental kita dan memainkan peran kunci dalam penyakit tertentu di seluruh tubuh. Meskipun pengaruhnya cukup besar, otak kedua bukanlah pusat pemikiran sadar atau pengambilan keputusan (Hadhazy, 2010).

Benarkah otak kedua mampu mempengaruhi mood seseorang?fasf

sumber: uclacns.org

Dilansir dari sains.kompas.com, para ahli dari ASAP Science mengatakan bahwa otak kedua manusia mengandung bakteri yang mirip dengan struktur otak serta mampu memengaruhi mood, perilaku, dan kesehatan mental. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa terjadi interaksi antara hal yang kita konsumsi dengan mikroba yang ada dalam tubuh kita. Hal ini pun sekaligus menjelaskan sebuah pernyataan bahwa “Kamu adalah apa yang kamu makan”, sehingga penting sekali bagi kita untuk memperhatikan apa saja yang kita konsumsi.

Otak kedua yang berada di usus ini mampu mengendalikan banyak hal, melebihi apa yang mungkin kita sadari. Sistem saraf enterik ini sangat istimewa karena ia mengontrol seluruh sistem pencernaan, mulai dari kerongkongan sampai anus. Selain mengendalikan sistem pencernaan, sistem saraf ini juga memengaruhi mood dan perilaku kita. Lebih dari separuh dopamin dan 90% serotonin, dua jenis hormon yang terkait dengan perasaan gembira, diproduksi oleh bakteri di usus.

Permukaan epitel tubuh bertindak sebagai perancah untuk menopang beragam komunitas komensal yang mencakup bakteri, archaea, jamur, protozoa, dan virus. Meskipun gagasan bahwa mikroba dapat meningkatkan kesehatan manusia bukanlah konsep baru, jalur penyelidikan terbaru yang menghubungkan mikroba dengan sistem hormonal dan saraf adalah suatu hal yang menarik. Dalam konteks ini, serangkaian temuan terbaru, termasuk karya Hsiao dan rekannya, mengungkap peran mikroba dalam mengendalikan produksi suatu neurotransmitter utama yaitu serotonin (Ridaura dan Belkaid, 2015).

Serotonin adalah molekul pensinyalan yang berperan dalam regulasi berbagai fungsi fisiologis. Beberapa bukti, termasuk karya Hsiao dan rekannya saat ini, menunjukkan bahwa, di usus, metabolit yang diturunkan mikroba mempengaruhi produksi serotonin yang pada gilirannya berdampak pada fungsi fisiologis host (Ridaura dan Belkaid, 2015). Berikut adalah ilustrasi bagaimana mikroba membantu menghasilkan serotonin dalam tubuh manusia.

saf

sumber: Ridaura dan Belkaid (2015)

Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa terdapat peluang yang cukup besar dalam dunia kesehatan dan kuliner. Mengapa demikian? Setelah kita pahami bahwa ada hubungan antara second brain dan mood bahkan mental manusia, maka dapat dilakukan pengembangan terhadap suplemen ataupun konsumsi manusia yang mana mampu menjaga fungsi kerja mikroba dalam menghasilkan metabolit yang baik bagi tubuh manusia. Dengan demikian diharapkan manusia dapat hidup dengan lebih sehat dan bahagia.

Hal apa saja yang mampu menjaga kesehatan usus dan mikroba dalam tubuh manusia?

Apakah sebelumnya kamu pernah mendengar pernyataan “Perut adalah gudangnya penyakit”? Nampaknya setelah kita membahas mengenai gut microbiome dan second brain, tentunya kita dapat melihat bahwa pernyataan tersebut benar adanya, sehingga penting untuk kita menjaga kesehatan perut kita dengan memperhatikan hal-hal yang mampu menjaga diversitas mikroba agar usus tetap sehat dan pencernaan jadi lancar.

fdsaf

sumber: drjockers.com

Dilansir dari sciencefocus.com, menurut penelitian, semakin banyak dan beragam komunitas mikroba usus, semakin rendah risiko penyakit dan alergi. Ini telah ditunjukkan dalam uji pada hewan dan juga penelitian pada manusia yang membandingkan mikroba orang dengan dan tanpa penyakit tertentu. Contoh baru-baru ini di King’s College London termasuk studi diabetes, obesitas, alergi dan penyakit radang seperti kolitis dan radang sendi. Sementara itu, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar kehilangan beberapa mikroba yang akan mereka peroleh melalui kelahiran melalui vagina, yang mungkin membuat mereka lebih rentan terhadap alergi dan asma.

Menurut Ochoa-Repáraz dan Kasper (2017), Berdasarkan bukti eksperimental dan epidemiologis menunjukkan bahwa mikrobiota usus bertanggung jawab atas perubahan imunologis, neuronal, dan endokrin yang signifikan yang mengarah pada obesitas, sehingga diambil hipotesis bahwa mikrobiota usus dan perubahan yang terkait dengan diet, mempengaruhi sumbu usus-otak dan mungkin berkontribusi pada perkembangan penyakit mental.

Jadi bagaimana cara agar dapat mengembalikan flora usus yang sehat, meningkatkan bakteri baik dalam tubuh, dan memberi mikroba dorongan untuk bersinergi secara positif? Berikut adalah beberapa tipsnya.

1. Tingkatkan asupan serat Anda

Targetkan lebih dari 40 gram per hari. Asupan serat telah terbukti mengurangi penyakit jantung dan beberapa jenis kanker, serta mengurangi penambahan berat badan.

2. Makanlah berbagai jenis buah dan sayuran secara teratur

Buah dan sayur yang bervariasi menjadikan bahan kimia dan jenis serat akan bervariasi, sehingga mendukung spesies mikroba yang berbeda.

3. Konsumsi sayuran tinggi serat

Contohnya adalah artichoke, bawang perai, bawang merah dan bawang putih yang mana mengandung inulin tingkat tinggi (serat prebiotik).

4. Konsumsi makanan dan minuman dengan kadar polifenol yang tinggi

Polifenol adalah antioksidan yang bertindak sebagai bahan bakar untuk mikroba. Contohnya adalah kacang-kacangan, biji-bijian, beri, minyak zaitun, brassica, kopi dan teh – terutama teh hijau.

5. Hindari ngemil

Selain itu, cobalah untuk meningkatkan interval di antara waktu makan agar mikroba dapat beristirahat.

6. Konsumsi makanan fermentasi yang mengandung mikroba hidup

Pilihan yang baik adalah yoghurt tanpa pemanis, kefir, keju susu mentah, kol parut, kimchi, dan produk-produk berbasis kedelai seperti kecap, tempe dan natto.

7. Hindari pemanis buatan seperti aspartam, sucralose dan sakarin

Bahan tersebut mengganggu metabolisme dan mengurangi keanekaragaman mikroba usus yang mana dalam studi pada hewan telah menyebabkan obesitas dan diabetes.

8. Habiskan lebih banyak waktu di pedesaan

Orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan memiliki mikroba yang lebih baik daripada penduduk kota karena adanya aktivitas berkebun dan di luar ruangan lainnya baik untuk mikroba.

9. Beraktivitas bersama hewan

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang hidup dengan hewan peliharaan memiliki lebih banyak keanekaragaman mikroba.

10. Hindari antibiotik dan obat-obatan yang tidak diperlukan

Antibiotik mampu menghancurkan mikroba baik dan buruk, dan butuh beberapa minggu untuk pulih, jadi gunakanlah hanya ketika kamu membutuhkannya. Bahkan obat-obatan umum seperti parasetamol dan antasida dapat mengganggu mikroba.

12. Jangan terobsesi kebersihan

Pencucian dan penggunaan semprotan antibakteri yang berlebihan mungkin tidak baik untuk mikroba ususmu.

13. Luangkan waktu dengan orang kurus

Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa leanness dapat menular. Mikroba dari hewan tanpa lemak dapat membalikkan obesitas menjadi lemak, tetapi anehnya, mikroba obesitas lebih sulit untuk ditularkan daripada yang ramping.

13. Hindari makanan dan suplemen vitamin

Hanya sebagian kecil dari suplemen yang terbukti bermanfaat. Sebagai gantinya, fokuslah pada makan beragam makanan nyata untuk mendapatkan semua nutrisi.

14. Makan seperti Hadza

Rata-rata orang Hadza makan sekitar 600 spesies tanaman dan hewan dalam setahun dan memiliki variasi musiman yang sangat besar. Mereka hampir tidak memiliki penyakit Barat yang umum seperti obesitas, alergi, penyakit jantung dan kanker.

Bagaimanakah hubungan antara puasa dan mikroba usus?

Tahukah kamu ternyata terdapat hubungan antara puasa dengan mikroba tubuh manusia yang kemudian mampu mempengaruhi kesehatan manusia? Dan pernahkah kamu mendengar hadist yang berbunyi “Sumber dari penyakit adalah perut. Perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu adalah obatnya (HR. Muslim)”? Baru-baru ini dilaporkan bahwa puasa intermiten membentuk mikrobiota usus untuk mendapatkan manfaat kesehatan, tetapi efek ini mungkin dipengaruhi oleh protokol puasa yang tepat.

Penelitian ini dilakukan pada usus tikus. Tikus jantan C57BL / 6 J yang sehat dikenakan puasa 12, 16 atau 20 jam per hari selama 1 bulan, dan kemudian diberi makan ad libitum selama sebulan. Mikrobiota usus dianalisis dengan sekuensing gen 16S rRNA dan asupan makanan juga dicatat. Hasilnya, ditemukan bahwa asupan makanan kumulatif tidak berubah pada kelompok dengan puasa 12 jam per hari, tetapi secara signifikan menurun pada kelompok puasa 16 dan 20 jam (Li et al., 2020).

Adapun komposisi mikroba usus berubah pada semua jenis puasa intermiten ini. Pada tingkat genus, puasa 16 jam menyebabkan peningkatan tingkat Akkermansia dan penurunan tingkat Alistipes, tetapi efek ini menghilang setelah penghentian puasa. Tidak ada perbedaan taksonomi yang diidentifikasi dalam dua kelompok lainnya. Data ini menunjukkan bahwa puasa intermiten membentuk mikrobiota usus pada tikus yang sehat, dan lamanya interval puasa harian dapat mempengaruhi hasil puasa intermiten (Li et al., 2020).

sdfasdf

Sumber: siimland.com

Dilansir biocodexmicrobiotainstitute.com, para peneliti Turki berpendapat bahwa peningkatan susunan mikrobiota usus setelah puasa disebabkan oleh resistensi spesies bakteri bermanfaat, seperti Bacteroides dan Akkermansia, terhadap perubahan pola makan. Hal ini dibuktikan melalui penelitian dengan sembilan subjek Muslim (tujuh wanita dan dua pria) yang berpuasa selama bulan Ramadhan. Dalam studi tersebut, dilakukan sejak 18 Juni s.d. 16 Juli 2015, serta berlangsung selama 17 jam per harinya.

Hasilnya, pada akhir Ramadhan, sampel tinja yang diperoleh dari peserta menunjukkan jumlah bakteri baik Bacteroides fragilis dan Akkermansia muciniphila meningkat dan kelimpahan bakteri lain menurun walau tidak signifikan. Kelompok terakhir membentuk 3-5% dari komunitas mikroba pada individu yang sehat tetapi proporsi ini lebih rendah untuk obesitas. Selain itu, puasa juga menghasilkan penurunan total kolesterol dan kadar gula darah. Hasil ini bersifat awal dan memerlukan konfirmasi dalam studi yang lebih besar, tetapi mereka memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara puasa dan mikrobiota usus.

Kesimpulan

Otak kedua manusia merupakan istilah yang diberikan oleh para ilmuan yang merujuk pada sistem saraf enterik (ENS) karena dapat beroperasi secara independen dari otak dan sumsum tulang belakang yang merupakan sistem saraf pusat (CNS) yang disebut sebagai “otak pertama”. Otak kedua manusia mengandung bakteri yang mirip dengan struktur otak yang mana mampu memengaruhi mood, perilaku, dan kesehatan mental. Puasa intermiten dapat mempengaruhi manusia karena membentuk mikrobiota usus yang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi efek ini hendaknya menggunakan protokol puasa yang tepat.

Daftar Pustaka

Anonim. 2016. Ada Otak Kedua di Perut Kita. <https://sains.kompas.com/read/2016/10/06/160000623/ada.otak.kedua.di.perut.kita>. Diakses pada 23 Juli 2020.

Anonim. 2018. ‘Second brain’ neurons keep colon moving. <https://www.sciencedaily.com/releases/2018/05/180529132122.htm>. Diakses 22 Juli 2020.

Anonim. 2020. 10 Ways To Improve The Gut Microbiome. <https://drjockers.com/10-ways-improve-gut-microbiome/>. Diakses pada 23 Juli 2020.

Anonim. 2020. 15 Tips to Boost Your Gut Microbiome. <https://www.sciencefocus.com/the-human-body/how-to-boost-your-microbiome/>. Diakses pada 22 Juli 2020.

Anonim. 2020. Effects of Intermitten Fasting on The Gut Microbiota. <https://www.biocodexmicrobiotainstitute.com/en/publications/effects-intermittent-fasting-gut-microbiota>. Diakses pada 23 Juli 2020.

Hadhazy, A. 2010. Think Twice: How the Gut’s “Second Brain” Influences Mood and Well-Being. <https://www.scientificamerican.com/article/gut-second-brain/>. Diakses pada 22 Juli 2020.

Land, S. 2018. Intermittent Fasting and Gut Health. <https://siimland.com/intermittent-fasting-and-gut-health/>. Diakses pada 23 Juli 2020.

Li, L., Y. Su, F. Li, Y. Wang, Z. Ma, Z. Li, J. Su. 2020. The effects of daily fasting hours on shaping gut microbiota in mice. BMC Microbiology 20: 1-8.

Ochoa-Repáraz, J. dan L. H. Kasper. 2017. The Second Brain: Is the Gut Microbiota a Link Between Obesity and Central Nervous System Disorders?. <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4798912/>. Diakses 23 Juli 2020.

R, Vanessa dan Y. Belkaid. Gut microbiota: the link to your second brain. Cell 161: 193-194.

Somers, J. 2019. Intuition and the Brain in Your Gut. <https://www.jocelynlive.com/intuition-and-the-brain-in-your-gut/>. Diakses 22 Juli 2020.

Tillisch, K., E. Hsiao, J. Jacobs, C. Sanmiguel, E. Mayer, J. Labus, L. Kilpatrick, L. Chang, A. Gupta, C. Sternini. 2020. Brain Gut Microbiome Research Program. <http://uclacns.org/programs/brain-gut-microbiome-research-program/>. Diakses pada 23 Juli 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published.